Pemanfaatan kotoran sapi sebagai Mortar

 "Penelitian lain dari teman saya A.Dimas B. mahasiswa teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta bekerja sama dengan saya sebagai penyuluh pertanian di media massa menggunakan televisi lokal Gajayana TV di Malang, Indonesia"


Nah, saya ingin menulis tentang skripsi kuliah saya untuk sarjana saya (S.Pt / Ilmu Hewan). Dalam penelitian ini. saya menjadi penyuluh pertanian / penyuluh pertanian. Dimas sebagai teman saya memiliki inovasi baru tentang cara mengolah kotoran sapi menjadi lebih berharga dan sangat bermanfaat bagi petani atau bisa untuk kelas menengah.

Kita tahu...Saat ini, bisnis peternakan khususnya "ternak" kini menunjukkan potensi yang sangat cerah. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan protein hewani, sehingga kebutuhan pangan berprotein dari hewani semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun perlu kita ketahui di balik perkembangan usaha peternakan yang semakin pesat ternyata dampak dari usaha peternakan di bidang peternakan adalah menumpuknya limbah ternak dalam bentuk feses.

Potensi limbah pertanian berupa kotoran ternak (feses) di Indonesia cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari satu ekor sapi dewasa menghasilkan kotoran sekitar 20 kg/hari. Berdasarkan data tersebut jika dikonversikan dalam skala industri dengan jumlah sapi perah antara 1500-7000 ekor, maka akan menghasilkan feses sebanyak 30-140 ton per hari atau sekitar 10,9-51,1 ribu ton per tahun. Jumlah ini hanya sebesar industri susu saja, belum termasuk pemborosan skala menengah dan kecil, serta peternak individu yang jumlahnya semakin meningkat.

Dewasa ini pemanasan global (global warming) menjadi masalah yang sangat serius khususnya di bidang peternakan. Dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang berjudul “Livestock's Long Shadow: Environmental issues and options” yang dirilis pada November 2006, disebutkan bahwa peternakan menyumbang sebagian besar gas rumah kaca hingga sekitar 18%, angka ini melebihi gas rumah kaca. dihasilkan oleh transportasi gabungan di seluruh dunia sebesar 13%. Selain itu peternakan juga melepaskan karbondioksida sebesar 9% dan metana 37%. Selanjutnya limbah feses yang dihasilkan ternak niitrogen menyumbang 65% dan 64% amonia oksida yang menyebabkan hujan asam.

Pengelolaan limbah kotoran ternak (feses) harus dilakukan dengan baik. Apabila kotoran ternak tidak dikelola dengan baik maka limbah yang dihasilkan akan menimbulkan permasalahan seperti aspek lingkungan produksi dan menimbulkan bau, sumber penyebaran penyakit pada ternak dan manusia, dan bila berdekatan dengan lokasi pemukiman akan menimbulkan protes dari masyarakat dan air. polusi.

Secara umum inovasi pengolahan limbah peternakan berupa kotoran ternak (feses) telah banyak dilakukan, seperti pemanfaatan feses sebagai pengomposan, biogas, campuran pakan lele, pembuatan batu bata, dan gerabah. Kreativitas mahasiswa dalam laporan program, Agustinus Dimas Bramudya yang merupakan mahasiswa teknik sipil Universitas Gadjah Mada menginspirasi penelitian Syammahfuz Chazali alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang telah berhasil meracik kotoran sapi sebagai bahan baku batu bata dan gerabah mendorong penelitian Dimas untuk mengembangkan penelitian selanjutnya, dengan membuat alternatif pengolahan kotoran sapi menjadi mortar. Jenis mortar atau perekat digunakan untuk membuat batu bata. Pada umumnya mortar dibuat dari campuran agregat halus, air, dan bahan perekat seperti semen portland, kapur, dan lain-lain. Semen portland banyak digunakan karena kekuatannya paling tinggi dibandingkan yang lain, yaitu berkisar antara 3-17 MPa (Tjokroadimuljo, 2007).

Pemanfaatan kotoran ternak dalam bidang bahan bangunan sudah dimulai sejak lama. Suku Sasak di Dusun Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Suku Zulu di Afrika Selatan memanfaatkan limbah kotoran ternak (tinja) sebagai bahan lantai dan penutup dinding. Dipercaya dapat menyejukkan rumah saat musim kemarau dan menghangatkan rumah saat musim hujan (Dimas, 2012). Potensi besar ini bila diolah dengan limbah kotoran sapi melalui teknologi pembuatan mortar yang tepat, diharapkan dapat memberikan bahan alternatif sebagai campuran plesteran yang lebih murah, ramah lingkungan dan jika digunakan dalam pembuatan konstruksi pemanfaatan kandang akan memberikan rasa nyaman. kepada binatang.

Secara konvensional, peran penyuluh terbatas pada kewajibannya untuk menyampaikan inovasi dan pengaruh melalui metode dan teknik penjangkauan yang ditargetkan khusus kepada mereka (penyuluhan sasaran) dengan kesadaran dan kemampuannya sendiri untuk mengadopsi inovasi yang disampaikan (Mardikanto 1993). Proses tersebut harus melibatkan interaksi penyuluh dan petani di masyarakat pedesaan. Karakteristik dan latar belakang sasaran yang berbeda merupakan tantangan yang dihadapi penyuluh. Oleh karena itu, dalam setiap pelaksanaan penyuluhan, penyuluh harus memahami dan mampu memilih metode penyuluhan yang terbaik sebagai jalan yang akan dipilih untuk pencapaian pelaksanaan penyuluhan (Soesmono, 1975). Instruktur yang berfungsi sebagai fasilitator bagi peternak perlu mengembangkan metode baru dalam proses konseling.

Kerjasama penelitian ini memanfaatkan kemajuan teknologi media massa sebagai wadah penyebaran informasi televisi inovasi pengetahuan tentang pengolahan limbah kotoran sapi menjadi mortar. Penggunaan media dalam proses penyuluhan diharapkan dapat membantu memperjelas informasi yang disampaikan oleh penyuluh kepada sasaran. Informasi yang disampaikan melalui media televisi akan lebih menarik dilihat secara audio visual, lebih interaktif, dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan indera manusia. Pentingnya penggunaan media dalam proses penyuluhan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan , keterampilan , perubahan sikap , dan perilaku yang merupakan hasil dari proses pembelajaran dalam kegiatan penyuluhan , dimana keberhasilannya ditentukan oleh efektifitas media penyuluhan , media jangkauan dan efektivitas penggunaan sangat ditentukan oleh jumlah indera yang digunakan (Zakaria, 2002).

Televisi merupakan salah satu media massa yang paling berpengaruh di masyarakat. Penggunaan televisi sebagai media pendidikan memberikan keuntungan, karena masyarakat tidak hanya mendengarkan suara penyuluh sasaran, tetapi juga dapat melihat dan memperhatikan segala sesuatu yang ingin diungkapkan ragam penyuluh, baik melalui suara, gerakan, bahkan contoh demonstrasi atau percakapan. Televisi dapat menjadi media yang sangat efektif untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sasaran yang ada dalam kesadaran untuk berusaha (Mardikanto, 1993). Media ini untuk merangsang pendengaran dan penglihatan, sehingga hasil yang diperoleh maksimal. Hasil tersebut dapat dicapai karena panca indera yang paling banyak mendistribusikan pengetahuan adalah mata ke otak (kurang lebih 75% sampai 87%), sedangkan 13% sampai 25% pengetahuan yang diperoleh atau disalurkan melalui indera lainnya (Maulana, 2009) ) .

Media siaran televisi pada awalnya hanya ditujukan untuk menyiarkan gambar (video) dan suara (audio), sehingga proses umpan balik (feedback) antara penyuluh dan sasaran tidak terjadi. Proses yang terjadi hanya berupa proses komunikasi satu arah. Komunikasi adalah penyampaian pesan satu arah yang mengisyaratkan arah seseorang atau lembaga kepada seseorang atau sekelompok orang, baik secara langsung (tatap muka) maupun melalui media seperti televisi tanpa proses umpan balik antara sumber (source) dan komunikator (komunikator). ) (Mulyana, 2004). Namun, komunikasi massa melalui televisi dewasa ini cenderung bersifat dua arah (interaktif). Sebuah acara dalam bentuk talkshow televisi 


Bagaimana cara membuat "mortar"?


Bahan dan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat mortar adalah:

Pasir

Semen

Kotoran Sapi Kering

Peralatan Tamper

sekop

Keranjang

Filter Pasir 5 mm atau Sekat Nyamuk Layar



Langkah-langkah cara pembuatan mortar :

1) Bahan baku feses sapi segar disiapkan, diambil langsung dari kandang atau alat penyimpanan lainnya.

2) Kotoran sapi dijemur atau diselam 4 hari selama 8 hari ke tempat yang lebih teduh, jauhkan dari air atau daerah lembab.

3) Kotoran sapi kering dibersihkan dari benda keras organik seperti kayu, bambu, dan sampah campuran.

4) Setelah kering, feses selanjutnya ditumbuk dengan alu yang terdapat di rumah tangga, seperti penumbuk padi atau benda lainnya.

5) Feses yang sudah dikeringkan kemudian disaring menggunakan saringan pasir (ukuran paling kecil di pasaran)

6) Setelah semua bahan feses siap, kemudian dikumpulkan dalam karung untuk dijadikan sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum digunakan.

7) Proses pembuatannya dilakukan dengan menyiapkan campuran bahan-bahan dalam proporsi campuran yang telah ditentukan sebelumnya yaitu 2 ember pasir, 40% ember semen, ember dan 60% kotoran sapi.

8) Pertama-tama, kotoran sapi dan air mani dicampur terlebih dahulu agar campurannya homogen. Kemudian, pasir ditambahkan ke dalam campuran semen-feses tadi. Penambahan dilakukan per ember agar hasil yang didapat lebih baik.

Setiap penambahan pasir diselingi dengan penambahan sedikit air sesuai selera (cek dengan cara mengambil nat yang dibuang, adonan jangan terlalu lembek dan jangan terlalu keras agar terlihat agak kental dan tidak jatuh saat dituang)


9) adonan yang sudah jadi dapat langsung digunakan untuk pembuatan dinding bata dengan tinggi < 1 m.


Potensi yang besar ini diharapkan dapat memberikan alternatif bahan campuran batu bata gipsum yang ramah lingkungan, serta dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat banyaknya kotoran sapi yang belum termanfaatkan dan juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.


- Hasil penelitian dan kerjasama ini yang telah menjadikan saya lulus sebagai Sarjana Peternakan UGM pada tahun 2014, semoga tulisan singkat tentang skripsi saya bermanfaat untuk semuanya. tulisan blog asli saya ada di link ini ya -

Posting Komentar

0 Komentar