Brucellosis ( Brucella infection in humans: Mediterranean fever, Malta fever )

Tulisan lama di blog terdahulu di tahun 2011 yang sengaja saya tulis ulang kembali untuk berbagi ilmu dan ada beberapa kasus yang bisa memungkinkan menular dari hewan ke manusia, salah satunya adalah kasus Brucellosis. 


Brucellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dari genus Brucella. Brucella dapat hidup lama di udara dan tahan terhadap kondisi kering. Ada beberapa spesies bakteri penyebab Brucellosis, seperti Brucella abortus (pada sapi), Brucella canis (pada anjing), Brucella militensis (pada domba dan kambing), dan Brucella suis (pada babi). Pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing juga bisa terinfeksi Brucella.

Brucellosis tersebar luas di berbagai belahan dunia, namun tidak menyerang daerah yang benar-benar menjaga kesehatan hewan dan menerapkan keamanan hayati yang ketat (biosecurity). Indonesia dan negara-negara lain di Asia, masuk ke dalam negara yang berisiko tinggi terkena penyakit ini. Pada umumnya orang menularkan penyakit ini melalui 3 cara :
1. Mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi Brucella. Manusia yang minum susu tidak dipasteurisasi atau makan daging yang dimasak dengan tidak sempurna. Penularan umumnya terjadi pada penularan Brucella melitensis.
2. Pernapasan terkontaminasi kuman Brucella (penghirupan). Kejadian ini biasanya menjangkiti orang-orang yang sering kontak dengan hewan, seperti penyayang hewan peliharaan, peternak, pekerja laboratorium, pekerja rumah potong hewan, dokter hewan dan staf.
3. Kulit, terutama luka kulit. Kejadian ini umumnya menjangkiti dokter hewan dan stafnya yang kontak dengan bahan yang digugurkan dan dimiliki vaksin Brucella abortus atau Brucella melitensis secara tidak sengaja.

Insiden Brucellosis terbesar disebabkan oleh minum susu mentah dan makan keju atau es krim yang tidak dipasteurisasi dengan benar (unperfect pasteurized). Untuk Brucella canis yang menginfeksi anjing sering dapat menular ke manusia jika kontak dengan darah, sperma, bahan yang diaborsi, selaput yang diaborsi, urin pasien, dan plasenta yang diaborsi anjing. Pada hewan kuman ini dapat menyebabkan keguguran, kemandulan, gangguan pada testis pria, dan penurunan jumlah sperma. Hewan tidak menunjukkan gejala klinis tetapi, penyakit ini akan mendapatkan hasil positif dari serum darah. Organisme tersebut akan tinggal di organ reproduksi yang dapat menyebabkan kemandulan atau keguguran. Manusia yang terserang Brucellosis akan menunjukkan gejala klinis yang mirip seperti flu antara lain demam, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot dan lemas, limpadenopati, pembesaran limpa (splenomegali), menggigil, radang testis dan yang biasa terjadi adalah demam undulan. Beberapa pasien dilaporkan mengalami anoreksia, kesulitan buang air besar, muntah, sembelit, infeksi sistem saraf pusat, gangguan reproduksi, genitourinari, dan menyerang lapisan jantung.

Pencegahan Brucellosis dapat dilakukan dengan menggunakan pakaian pelindung dan masker saat menangani hewan yang mengalami keguguran serta sampel laboratorium yang menangani hewan yang diduga terinfeksi Brucellosis, saat minum susu pasteurisasi harus sempurna terlebih dahulu, dan menggunakan pakaian pelindung lengkap dengan sepatu bot dan masker saat melakukan vaksinasi, dan jangan mendekati daerah endemis Brucellosis jika tidak berminat. Bagi pekerja yang berisiko tinggi sebaiknya melakukan pemeriksaan darah secara rutin. Diagnosis untuk penyakit ini dapat digunakan tes aglutinasi cepat, kultur darah, dan serologis. Antibiotik dapat digunakan untuk memerangi penyakit ini. Sekitar 80% kasus dapat diobati dengan antibiotik, sedangkan kasus yang gagal ditangani hanya kurang dari 2%.

Posting Komentar

0 Komentar